Skip to main content

Bagaimana Menjadi Seorang Fotografer Pernikahan

 



Bagaimana Menjadi Seorang Fotografer Pernikahan


Banyak orang mungkin mengira bahwa menjadi seorang fotografer pernikahan itu mudah. Apalagi sekarang ini semua orang sudah memiliki kamera bagus dan ingin coba coba mulai dapetin uang dari foto-foto mereka. Peluang ini boleh juga dipertimbangkan mengubah hobi Anda memotret menjadi sebuah bisnis yang dilakukan cuma satu hari dalam seminggu. 

Banyak yang sudah mencoba dan bahkan hampir 2 tahun lebih tapi masih rindu order istilahnya. Pada kenyataannya tidak mudah menjadi seorang fotografer pernikahan walaupun cuma motret seminggu sekali.

Ada beberapa Faktor yang harus kita perhatikan sebelum memulai motret Pernikahan

1. Latihan
Latihan, ...PRACTICE MAKE PERFECT ..boleh saja anda sudah menguasai kamera dan tahu bagaimana cara motret, tapi fotografi pernikahan adalah genre fotografi yang spesifik. Yang mungkin saja anda belum pernah mencoba. 

Waktu untuk sebuah acara pernikahan dari ijab kabul/pemberkatan sampai resepsi  memang sudah ditentukan. Sebagai fotografer tidak boleh datang terlambat.

Pastinya banyak orang pada resepsi pernikahan. Tugas seorang fotografer lah yang mengatur untuk mendapatkan gambar yang bagus.

Seandainya ada waktu luang manfaatkanlah dengan latihan motret, bisa juga dengan cara meminta bantuan kawan untuk pura pura jadi pengantin, buat beberapa foto dengan menggunakan baju pengantin. Sekaligus latihan membuat pose foto pasangan. Berlatih dalam kondisi cahaya yang berbeda juga perlu dicoba.

Latihaan buat foto grup,  Mungkin di pesta teman atau pertemuan keluarga. Memotret ditengah keramain pesta memang bikin grogi buat pemula. Melakukan test cetak ukuran kecil. Biasanya masih ada persoalan yang bikin kesal apabila tampilan gambar pada komputer masih beda dengan Print Out nya.






2. Searching, Ngulik Blog/Web Fotografer 
Belajar dari mereka. Cari foto yang menurut Anda luar biasa. Dan latihan bagaimana mereka buat foto-fotonya. Latihan, Buat koleksi gambar inspiratif.

3. Buat Blog/Web dan mulai posting 
Sosial media, apapun namanya sudah banyak dimanfaatkan orang untuk promosi. Dari koleksi foto-foto hasil latihan, bisa ditampilkan di media sosial seperti InstagramFacebook  atau mungkin hobi foto dibarengi dengan hobi nulis bisa saja buat Blogspot pribadi.

Buat website Anda menjadi peringkat yang baik di Google melalui mesin pencari, Walaupun susah, tapi kayaknya harus dicoba. Semakin cepat Anda mulai membangun website yang baik, membuat konten yang tepat, dan mendapatkan nama Anda di luar sana, semakin bagus pasti hasilnya.

Membuat website yang ditujukan untuk daerah yang Anda targetkan. Jika Anda mencari pekerjaan di lokasi tertentu, gunakan kata kunci untuk lokasi yang seluruh situs-bahkan Anda di URL, jika mungkin, untuk benar-benar membantu dengan SEO. Jika Anda ingin dikenal sebagai jenis tertentu fotografer-seperti reportase, candid, atau fotografer pernikahan. Kuncinya adalah memilih audiens niche yang tepat






4. Buat Portofolio foto anda dan coba promosi
Hal ini bisa dalam bentuk kartu nama, brosur, atau apapun yang Anda dapat bagikan. Satu hal yang gampang adalah membagikan beberapa kartu nama, brosur atau apapun layaknya media promosi dan minta izin untuk dititipkan di Rumah Rias Pengantin, penyewaan Tenda dan Pembuatan Kartu Undangan.



5. Mulai membeli/sewa peralatan.
Fotografer Pernikahan harus memiliki kamera dan berbagai lensa yang bagus. selain itu  Anda juga membutuhkan body kamera dan lensa cadangan. Bayangkan apabila anda sedang bertugas memotret pernikahan, pada saat itu kamera yang sedang digunakan rusak, atau ada kendala lain. 




6. Bekerja  setiap hari.
Cara sederhana adalah dengan memulai  menawarkan layanan Anda kepada siapa pun yang Anda kenal. Tawarkan mereka untuk menggunakan jasa anda. Setelah Anda melakukan satu-dua kali  foto pernikahan dengan baik, yang lain akan mengikuti saran dari client pertama anda, Istilah nya "Getok-Tular"         ( Jawa ) 

Mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa dapat pekerjaan ini. Lakukan sesuatu setiap hari yang efektif, apakah itu praktek fotografi, mempelajari beberapa teknik baru, bekerja di website Anda, atau melakukan kerjasama dengan beberapa kawan untuk menjadi sebuah Tim yang solid.



Jemput Bola !!!

Salam 

Sharing is a pleasure...

Mudah-mudahan berguna...

Comments

Popular posts from this blog

How I Learned to use a DSLR

  How I Learned to Use a DSLR Camera If you’re looking to get the most out of your new DSLR camera, you’re going to want to get out of the automatic Program mode (which is fully automatic) and begin learning how to take photos either in Shutter Priority mode, Aperture Priority mode or, ultimately, full Manual mode. Manual mode. Photo by  Levente Fulop When you’ve got your camera in Program mode (usually signified by a letter “P” on the mode dial of your DSLR), you’re basically handing over all of the decision making responsibility to the camera. The camera will then use its coded algorithms to decide what is the most appropriate settings to use—that is, how wide the aperture should be, how fast the shutter speed should be. Both of these (aperture and shutter speed) affect the amount of light data that can be captured by the camera’s digital image sensor, and what the camera calculates as appropriate might not result in an image that’s desirable. Essentially, when you buy a DSL...

9 HDR Photography Myths

  9 HDR Photography Myths Ending soon  – popular HDR software deal today:  Aurora HDR + CameraBag Cinema HDR (high dynamic range) is a subject that gets a lot of attention, both positive and negative, within the photography community. Because the topic can be so polarizing it seems like there are many myths or misunderstandings surrounding HDR photography. In this article we’ll take a look at nine common myths and why they are not true. “Zion Canyon HDR” by  Ben Jackson 1. HDR is a Way to Take Bad Photos and Make Them Good If you’ve spent very much time browsing sites like Flickr, 500px, 1X, or any other photo sharing community, you have probably noticed that some HDR photos really jump out at you. Sometimes there is a tendency to think that if you can use HDR to get a more intense image, you can turn average—or even below average—photos into something special like the ones that are catching your eye. The truth is, HDR is not a cure for bad photos. In order to get am...